KUBERIKAN INI SEMUA UNTUKMU! HANYA UNTUKMU!

Sore mendung kembali datang membungkus angkasa. Kepalaku terasa berat. Seberat bumi menahan langit.

Kulihat gunungan pasir diseberang. Kurasakan ketulusan butiran-butirannya. Dengan rela diinjak-injak oleh anak manusia. Tak pernah mengeluh, karena pasir sadar bahwa mereka diciptakan untuk manusia.

Disana juga terlihat pepohonan mangga. Buahnya menguning ranum. Cantik. Pohon itu juga merelakan buah manisnya dipetik oleh anak manusia. Karena mereka sadar bahwa tak ada yang lebih mulia dari anak adam. Hidup si mangga hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Tepat dibalik hijaunya daun mangga. Tatapanku beralih ke segerombolan lebah yang rajin merangkai rumah madunya. Dengan ikhlas mereka bahu-membahu mengisi sedikit demi sedikit madu disarangnya. Kulihat mereka sejenak. Dengan senyuman berbolak-balik menghisap bunga dan kembali ke sarang. Selalu begitu.

Aku heran! Tak pernah kulihat mereka enggan dan malas merangkai tetesan madu dirumah mereka. Padahal madu itu bukan untuk lebah! Tapi semua itu hanya untuk anak adam. Kenapa mereka begitu rajin? Dia sadar, bahwa mereka mendapat kesempatan bernapas hanya untuk melayani anak adam, makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah.

Hari itu tepat 10 Dzulhijjah. Ketika umat sedang ramai mengumandangkan takbir, sedangkan kambing-kambing sedang meneriakkan salam perpisahan yang indah. Hari yang dinanti oleh para hewan kurban. Karena hari itu mereka akan merasakan kemuliaan dengan mengganti posisi Ismail as untuk disembelih. Mereka tau, bahwa hidup dan matinya hanya untuk mengisi kehidupan panjang anak-anak adam.

Alam dan seisinya sadar akan kebijakan Allah dalam Firman-Nya:

“Apakah kalian tidak melihat bahwa Allah swt. telah mempersembahkan kepada kalian apa-apa yang ada dilangit dan dibumi.”

Semua sadar. Semua ikhlas. Semua rela. Demi menaati Sang Pencipta.

Lalu pandanganku tertoleh kepada segerombolan anak manusia diujung sana. Mereka begitu istimewa di jagat ini. Makhluk paling sempurna. Sehingga Allah pun berkomentar akan keistimewaan mereka dalam Hadist Qudsinya:

“Wahai anak Adam, Aku ciptakan segala sesuatu untukmu dan Aku ciptakan Engkau untuk-Ku”

Tak ada yang lebih indah. Hanya manusia yang diciptakan khusus untuk-Nya.

Lalu mengapa mereka masih enggan bersyukur?

Sungguh kejam. Sungguh bengis. Tak heran, karenanya Allah menaruh mereka dibawah derajat binatang. Karena binatang pun akan berbaik hati jika diberi makan.

Ohhh, meruginya manusia!

JANGAN JAUHI KATA “SULIT”, KARENA ANDA AKAN DIJAUHI KATA “BAHAGIA”

Tak semua keinginan itu mudah

Andai segala keinginan mudah terwujud bagai meneguk air. Tak perlu ada lagi luka, derita dan air mata. Tak akan lagi terlihat orang menangis sedih, tak pernah lagi kan kulihat orang tersungkur berputus asa. Andai semua ini begitu mudah, hidup akan terasa manis bagai madu, indah bagai surga, dan sejuk bagai himpunan embun pagi.

Akankah begitu?

Benarkah demikian?

Pikiran pendek kita pasti akan menjawab “Iya dan Benar”. Cobalah berfikir sejenak dengan pikiran yang jernih tanpa noda nafsu sesaat. Akankah demikian?

Akankah anak kecil yang setiap hari mendapat uang jajan 5000 akan merasa senang jika keesokan harinya mendapat jatah yang sama? Padahal uang jajan itu yang dia inginkan dan itu mudah.

Akankah seorang setiap ujian mendapat ranking satu kemudian pada ujian berikutnya dia “seperti biasa” mendapat ranking satu seperti yang dia inginkan, akankah dia akan senang dan menjerit bahagia? Padahal itu yang dia inginkan dan itu sangat mudah baginya.

Akankah seorang karyawan akan mendapat “kebahagiaan lebih” ketika dia mendapat gaji “seperti biasa” dengan pekerjaan biasanya? Padahal itu yang dia inginkan dan itu sudah menjadi hal yang mudah dan teratur bagi hidupnya.

Jawaban dari semua pertanyaan adalah biasa-biasa saja. Ya, mereka senang, tapi biasa-biasa saja. Mereka akan selalu berharap kebahagiaan leih dari yang biasanya.

Ternyata, disinilah peran kata “sulit” dalam hidup kita. Peran yang sangat penting untuk kebahagiaan kita. Apakah setiap saat kita hanya ingin mendapat kesenangan yang “biasa-biasa saja”?

Tentu tidak! Semua manusia pasti berharap kesenangan “tambahan” dan kebahagiaan “lebih” dalam hidupnya. Dan semua itu tak kan terwujud tanpa kata “sulit”.

Jangan pernah berkhayal akan mendapat hidup semanis madu tanpa kata”sulit”. Jangan pernah bermimpi akan beroleh hidup indah tanpa peran kata “suit”. Jangan pernah berkhayal merasakan sejuknya nasib jika belum mau mencicipi kata “sulit”.

Bersyukurlah! Dan sadari!

Bahwa keindahan akan terasa indah karena ada kesulitan sebelumnya. Dan hidup akan terasa manis ketika ada kepahitan sebelumnya. Sehat akan terasa mahal ketika ada sakit sebelumnya. Hidup akan terasa berharga ketika kita tau akan hakekat kematian sebenarnya.

Jangan pernah hindari kata “sulit”, karena dengan menjauhinya maka kita akan jauh dari kata “bahagia”.

Ngantukk!!!!

Ngantuk….
Hari ini amat berat bagiku. Tiba-tiba diawal jam pelajaran, mataku serasa ditarik oleh ribuan prajurit “ngantuk”. Beberapa saat aku sadar dan tak lama kemudian kepalaku tertunduk dan aku tak sadar. Hanya karena virus ngantuk ini, aku harus meninggalkan semuanya. Meninggalkan keterangan guru, meninggalkan catatan pelajaran dan meninggalkan teman-temanku yang masih terjaga. Setelah itu aku tak sadar lagi. Ruhku melayang, entah kemana.
Suara serempak teman-temanku tiba-tiba mengagetkanku. Aku tersadar dan semuanya sudah selesai. Jam pelajaran telah usai dan sekrang waktunya pulang kerumah masing-masing. Sementara aku pulang tanpa membawa apa-apa karena tadi aku hanya berbekal “tidur”.
Ditengah jalan, ketika kakiku melangkah pulang menuju rumah, aku berpapasan dengan sekelompok orang yang sedang meneriakkan, “LA ILAHA ILLALLAH” sambil menggotong keranda yang berisi orang yang baru saja meninggal. Serentak bulu gudukku berdiri, aku merinding dan langsung cepat-cepat masuk rumah.
Didalam rumah, benakku masih teriang-iang kepada mayat tadi. Tiba-tiba aku juga teringat akan prajurit “ngantuk” yang menyerangku tadi pagi. Kurasa keduanya tak jauh berbeda. Ngantuk itu tiba-tiba datang dan tanpa kompromi lagi memaksaku memejamkan mata padahal tugasku masih banyak, presentasi yang kusiapkan untuk minggu ini batal hanya karena rasa kantuk memenjarakan tubuhku. Semuanya tertinggal hanya karena rasa kantuk yang tiba-tiba datang dan aku pun tertidur.
Aku yakin mayat yang tadi kulihat sama sepertiku. Dia masih punya banyak tugas yang belum ia selesaikan. Masih banyak harta yang belum ia nikmati setelah sekian taun ia bekerja keras untuk mengumpulkannya. Masih banyak berbagai hal yang hendak ia lakukan, tapi tiba-tiba malaikat maut datang dan memaksanya untuk “tidur” dan meninggalkan segalanya. Harta, istri dan anak-anak terpaksa ia tinggalkan. Ini semua terjadi secara tiba-tiba.
“Jika datang ajal mereka, tidak dapat mereka akhirkan meskipun sesaat dan tidak dapat mereka dahulukan.”
Hiii…. Bulu gudukku semakin berdiri menahan rasa ngeri. Aku harus siap-siap karena malaikat maut ternyata juga datang secara tiba-tiba. Aku harus siap-siap menyambutnya agar nanti tidurku yang panjang bisa memberikan kesan mimpi yang indah bukan siksa kubur yang berkepanjangan.

TOLOOONGGG!!! BERSATUUU!!!

Kemarin, jari telunjukku terkena paku disamping lemari. Luka itu membengkak sampai menimbulkan infeksi yang cukup serius. Yang membuatku heran adalah kenapa hanya ujung jariku yang terinfeksi tapi rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. Hanya karena luka diujung jari, seluruh tubuhku terasa panas dan meriang. Anehh…. Setitik luka mempengaruhi seluruh badanku. Pastinya antara satu bagian tubuh dengan bagian yang lain mempunyai hubungan saraf yang amat kuat, sehingga jika satu sakit maka semua ikut merasakan.
Kurasakan hal yang sama pada islam. Didalamnya terdapat beragam pemikiran, madzhab dan paraktek-praktek ibadah. Beragamnya pemikiran dan keyakinan dalam islam menjadikan isslam itu sendiri menjadi kaya akan ilmu pengetahuan dan menjadi semakin luas dan terus meluas. Agama ini adalah agama yang terlengkap yang pernah kutemui dalam hidupku. Bayangkan saja, didalamnya mengatur urusan manusia sampai aspek yang terkecil dalam kehidupan. Bahkan cara masuk kamar mandi pun diatur oleh islam. Memang benar, inilah agama akhlak yang dibawa oleh orang yang paling berakhlak untuk menyempurnakan akhlak.
Tapi sayang, akhir-akhir ini keagungan islam mulai ternodai. Keragaman pemikiran bukan lagi dianggap sebagai keluasan ilmu islam. Perbedaan itu kini dianggap sebagai bencana yang harus disamakan menjadi satu.
Mungkin mereka lupa bahwa perbedaan adalah rahmat tuhan. Dan sekarang mereka bermimpi menghapus perbedaan dan menyamakan semuanya menjadi satu. Ini mustahil terjadi!
Percaya ataupun tidak, ini semua adalah agenda besar musuh islam untuk melenyapkan agama besar ini dari muka bumi. Karena selama ini, mereka kewalahan melawan islam yang ditopang oleh persatuan didalamnya. Mustahil para musuh akan menang jika melawan islam dari depan. Oleh karenanya, akhirnya mereka merancang sebuah rencana besar untuk menyerang islam dari belakang. Dan akhirnya lahirlah agenda besar yang berjudul, “adu domba antar madzhab”. Dan lihatlah sekarang apa yang terjadi, agenda ini mulai berjalan mulus dan musuh pun mulai sedikit tersenyum akan keberhasilannya.
Saudaraku ummat islam yang kuharapkan kasih sayangnya. Sadarlah!! Islam adalah satu tubuh, jangan kalian sakiti tubuh yang lain. Baru kali ini kutemukan seseorang yang mau untuk melukai tubuhnya sendiri.
Ingat!!! Seluruh tubuh ini saling berkaitan. Satu bagian dengan bagian yang lain mempunyai saraf yang mempengaruhi satu sama lain.
Selama ini kita memang tak sadar. Tak pernah sadar apa yang kita ucapkan. Aku amat yakin, ketika kalian berteriak, “kalian kafir, kalian sesat”, kata-kata itu sama sekali tak didasari akal sehat. Kata-kata itu melukai saudara-saudara kalian sendiri yang mereka adalah bagian dari tubuh islam.
Sadarkah kalian, ketika ada yang melukai satu bagian tubuh islam, otomatis semua badan akan merasakan sakit. Selama ini kita melukai tubuh kita sendiri. Dan dampaknya, seluruh tubuh akan merasakan sakit dan mudah bagi musuh untuk membinasakan kita.
Aku hanyalah anak kecil yang memilih jalan pemikiran ahlul bait. Hanya satu yang kuminta. Bangunlah! Sadarlah! Wahai orang-orang yang dijadikan robot oleh musuh. Jangan kalian sakiti tubuh kalian sendiri, karena nantinya aku akan binasa dan kalian pun binasa oleh musuh kita.

Aku Mati!!!

Ketika mata mulai redup, nadi mulai melemah, suara-suara mulai tak terdengar, dan pandangan pun mulai terbuka kepada alam lain, aku hanya bisa berwasiat, “ aku menyesal, maut telah didepan mata.”
Saat itu, ramainya orang yang menjenguk sama sekali tak menggangguku, aku tak mendengar panggilan mereka, aku tak merasakan tangisan dan rintihan mereka, aku sama sekali tak tau akan kehadiran mereka. Aku merasa sendiri sementara pandanganku seakan melihat segala memori yg dulu,video kehidupanku seakan diputar kembali.
Disaat sanak kerabat muali merintih dan menangis, aku masih ssibuk melihat napak tilas hidupku. Aku hanya bisa menyesal saat melihat anggota tubuhku dalam keadaan durhaka kepada tuhan. Aku hanya bisa menggigil ketakutan saat melihat kedurhakaanku terhadap kedua orang tuaku. Aku hanya bisa menangis dan berharap kembali ke masa lalu ketika kumelihat tanganku sedang mendholimi orang-orang tak bersalah. Kini aku tak berdaya melihat segala yang kulakukan kini diputar kembali. Sementara pada waktu itu, senyumku hanya sejenak saja, karena amat sedikit perilaku baik yang kulakukan sebelumnya.
Aku hanya bisa berharap dan berharap kembali ke masa lalu dan tak melakukan hal-hal bodoh yang mengancam kehidupan akhirku.
Tak lama kemudian, aku melihat sesosok malaikat berputar-putar disekelilingku. Tiba-tiba kakiku mulai terasa dingin dan tak bisa bergerak lagi. Rasa dingin itu mulai naik dan terus naik sampai kurasakan dingin itu didadaku. Aku sudah tak melihat keluargaku lagi, yang kulihat hanya penyesalan dan penyesalan. Sampai akhirnya dingin menyelimuti seluruh badanku dan aku pun melihat jasad yang bertahun taun menemaniku kini harus berpisah denganku. Dan lagi-lagi aku hanya bisa bergumam, “aku menyesal.”
Sekarang aku baru sadar, aku baru bangun dari tidur lelapku didunia. Aku melihat segalanya dengan nyata. Dunia yang seakan nikmat ternyata hanya fatamorgana. Harta yang selama ini kukejar ternyata hari ini kutinggalkan sia-sia. Semua rasa, cinta, syahwat dan apapun itu tak memberikan apapun. Kini kusendiri tanpa amal baik yang seharusnya menemaniku pada hari ini jika saja aku memeluknya didunia. Saying, aku lebih sering memeluk “amal burul” yang tak ada guna ketimbang “amal baik” yang setia.
“Manusia itu tidur, dan ketika mati dia baru terjaga”
Benar kata sang pintu kota ilmu nabi. Dia telah terheran-heran dengan orang-orang yang tak pernah ingat akan datangnya kematian padahal setiap hari dia menyaksiakan kematian disekitarnya.
Itulah aku yang hanya bermodal kebodohan untuk hidup didunia yang penuh ujian. Selama ini, aku berkhayal hidup selamanya dan tak pernah ingat akan adanya hari kematian dan pertanggung jawaban. Padahal, setiap hari kusaksikan makhluk-makhluk saling menyusul menuju kematian. “aku menyesal”
“Aku heran terhadap orang-orang yang lupa dengan kematian sedangkan dia selalu melihat kematian”
(Ali bin Abi thalib)

Bersihkan diri anda, jangan hanya membersihkan rumah anda!

Di desa tempat kelahiranku, ada sebuah rumah warisan yang tak berpenghuni. 20 tahin sejak kakekku pergi kerumah abadi, rumah itu kosong, tak ada satu manusia pun yang tinggal didalamnya.
Aku sudah mulai bosan dengan kehidupan kota yang kotor. Mencari udara bersih saja, susahnya minta ampun. Belum lagi polusi suara dari kendaraan-kendaraan tak bertanggung jawab. Juga polusi mata dari wanita-wanita yang telah kehilngan rasa malu sehingga mereka membeli pakaian yang serba kekurangan bahan (atau biasanya disebut serba mini). Ditambah lagi polusi pikiran yang selalu “menggarai” emosi yang selalu bergejolak. Inilah kehidupan dikotaku.
Setelah sekian lama aku hidup ditengah hiruk pikuk kota. Aku ingin merasakan ketenangan. Aku ingin pindah ke suatu tempat yang tenang, bersih dan tak ber “polusi”. Aku ingin tinggal dirumah kakekku. Daripada rumah itu dihuni oleh jin-jin dan binatang-binatang, lebih baik aku tinggal disana.
`setelah perjalanan yang cukup menyenangkan dan melelahkan. Akhirnya ku sampai didepan rumah tua yang tak seperti rumah lagi, bahkan lebih mirip rumah hantu ditaman safari. Aku bingung… mau diapakan rumah ini??? Tidak mungkin aku mau tinggal dirumah hantu seperti ini? Lebih baik aku panggil tukang setempat untuk menanyakan padanya bagaimana cara merubah rumah hantu ini menjadi rumah yang layak dihuni.
Akhirnya pak tukang pun datang dan memberi solusi bagaimana cara mengembailkan rumah hantu ini menjadi rumah manusia. Tukang itu memberiku cara dengan melakukan 4 tahapan:
1. Mengosongkan rumah dari barang-barang
2. Membersihkan rumah dari segala kotoran
3. Menghiasi dan mengisi rumah dengan hiasan-hiasan dan perabotan yang aku sukai.
4. Dan yang terakhir, nimati rumah idaman anda!

Waahh…. Kurasa tukang ini ahli dalam masalah bersih-bersih. Aku tak mau ambil pusing lagi, segera saja aku tawarkan kepada bapak itu untuk membersihkan rumah hantu itu. Dan syukurlaah… Bapak itu mau membantuku, tapi dengan ongkos.
Sekarang, aku menunggu didepan rumah sampai pak tukang menyelesaikan pekerjaannya. Ditengah lamunanku, aku berfikir tentang diriku yang kotor dan penuh dosa. Aku ingin berubah, aku ingin bersih. Tapi bagaimana caranya? Apakah cara membersihkan diri ini sama seperti cara membersihkan rumah kotor? Aku bingung..
Ditengah kebingunganku, tiba-tiba “mantan” ustadku dulu lewat dihadapanku. Aku disapa olehnya dan aku sempat kaget karena aku sedang melamun tadi. Sudah 20 tahun aku tak bertemu ustadku ini. Akhirnya kita pun duduk bersama melepas rasa rindu.
Pikiranku masih terganggu oleh pertanyaanku yang tadi. Mumpung ada ustad, aku tanyakan saja pertanyaan yang tadi sempat membingungkanku.
Setelah kutanyakan, aku heran dengan jawaban ustad ini. Ternyata jawabannya sama persis dengan jawaban pak tukang tadi. Ustad itu menjawab, “Dirimu bagaikan rumah kotor ini. Jika kau ingin membersihkannya, kau harus melalui 4 tahapan:
1. Kosongkan dirimu dari barang-barang kotor dihatimu dengan cara menyesali segala perbuatan yang kau lakukan serta bertekad untuk tidak mengulanginya. Dan itulah yang namanya taubat.
2. Bersihkan dirimu dari segala kotoran dan debu yang lama menempel diruang hatimu dengan melakukan segala kewajiban yang selama ini kau tinggalkan dan membuang jauh-jauh segala larangan yang selama ini kau terjang.
3. Hiasi hatimu dengan hiasan-hiasan yang kau tempel didinding hatimu, juga dengan segala perabotan indah yang akan memperindah semua ruangan yang ada dihatimu dengan melakukan sunnah-sunnah yang dilakukan orang termulia dimuka bumi ini.
4. Dan terakhir, rasakan ketenangan di kediaman hatimu karena cahaya tuhan hanya akan menempati ruang hati yang bersih.

Jawaban ini sangat memuaskanku. Sekarang aku bukan hanya ingin membersihkan rumah tapi aku ingin sekali membersihkan ruang hatiku yang kotor dan rindu akan ketenangan.

Jangan lepas pelukmu, Tuhan!

Sungguh,.
Seandainya kasih mu hilang,.
Maka hatiku akan runtuh,.
Karena kcintaanmu adalah pondasi hati aku,.
Sungguh,.
Seandainya kau mulai tak memperhatikan aku,
Maka aku benar2 takkan ada di dunia ini,.
Karena prhatian mu merupakan alasan aku hidup,.

Namun aku percaya,kau tak akan melakukannya,. tak akan,..

Walau kau menghujani q dngn kasih mu,namun trkdang aku lupa siapa yg membasahi tubuh ku dengan cinta,.

Kau memandangiku,meski waktu q kulalui untuk memandangi bunga cintamu,.bukan sang pemilik cinta,.

Kau tak kecewa,.
Ya Rab! enggkau tetap membentangkan atmosfer kasih mu,.walau ak tak memandang kasih mu se elok permata,atau seterang sang surya,.

Ya rab ,aku sadar ini smua adalah cintamu,tapi belaian dunia sangat melenakan,.

Wahai al-latif,.jangan abaikan aku dan melepaskan pelukanmu,.
Jangan biarkan aku trus tertimbun dlm keindahan dunia,.

Karena hakikat seorng pecinta,.adalah ingin bersama Sang Kekasih,.

Ibuku Malaikatku

Ibu….
Tak kusangka kau adalah seorang manusia
Tak kusangka engkau adalah wanita biasa
Bagiku, engkau bak sesosok malaikat yang penuh kelembutan
Kau bagaikan jantung yang memompa semangat dihariku
Kau layaknya ruh yang akau tak bisa hidup tanpanya
Matamu adalah obat rinduku
Senyummu adalah penawar segala gelisah hatiku
Aku yakin kau bukan manusia biasa
Tak ada satupun yang merelakan hidupnya untukku selain engkau
Kuingat, saat 9 bulan aku dalam kehangatan rahimmu…
Sekalipun kau tak pernah mengeluh
Kuingat, saat aku menangis dimalam pekat
Kau bangun dengan senyuman tanpa rasa enggan
Kuingat, saat aku mulai bertingkah kesana kemari
Kau jaga aku agar tak satupun goresan lecet melukai tubuhku.. dan kau tetap tertawa
Kuingat, saat aku beranjak remaja
Kurasakan tetesan air matamu ditengah malam yang memohon keselamatan untukku
Dan kau tak pernah meminta apapun dariku
Sementara aku????
Aku selalu mengeluh saat kau menggiringku kepada kebaikan
Hatiku selalu menggerutu saat kau melarangku dengan kasih sayang
Saat itu aku lupa apa yang telah kau lakukan untukku….
Aku memang tak tau terima kasih
Aku memang tak tau bersyukur
Aku memang durhaka
Padahal itu semua demi kebaikanku
Tapi kau tetap mengirim doamu untukku walau hatimu sakit
Dan akhirnyaaa….. Kau hanya berkata:
“Tak ada yang kuharapkan selain kebahagiaanmu, Anakku”
THANKS MOM

Puisi seorang yang rindu pada Rosulnya

Ketika kegelapan menyelimuti seluruh mata
Ketika aturan hanyalah sebuah angan-angan senja
Ketika akal ikut terkubur bersama raga
Ketika kebebasan hanyalah sebuah mimpi belaka
Ketika hidup adalah bencana
Ketika darah tak lagi berharga
Ketika hak-hak tak ada nilainya
Ketika mati lebih baik dari pada hidup sengsara
Ketika bayi perempuan tak diizinkan bernyawa
Ketika kebobrokan tak berarti apa-apa
Ketika baik dan buruk tak jauh berbeda
Ketika minuman keras adalah suguhan biasa
Ketika harga diri tak lagi tampak berjasa
Ketika itu lahir setitik cahaya
Seketika itu menerangi seluruh penjuru dunia
Dan merubah segalanyaaaa…..
Benakku langsung menuju sebuah nama
Siapa lagi selain dia?
Siapa lagi yang akan memberi kabar gembira?
Selain habibi Al-Mustofa?
Kegelapan yang semula berkuasa kini pupus ditelan cahaya
Aturan-aturan sempurna kini lahir membantu cahaya
Akal yang mulanya mati, kini bangkit menantang dunia
Hidup tak lagi bencana
Darah kini berharga
Hak-hak kembali kepada sang empunya
Bayi perempuan ikut bahagia
Kerusakan mulai putus asa
Kini harga dirilah yang Berjaya
Semua hanya karena sebuah nama
MUHAMMAD AL-MUSTHOFA

Ayahku tak pernah hilang (cerpen)

Karya pena : Syahzanan assegaf
“Abang aku lapar bang” Sirin mengadu kepada abangnya. Mereka anak yatim yang tinggal disebuah desa terpencil di ujung sahara sana. “Sirin adikku, sabar ya! Abang carikan makanan di dapur, tapi jangan mengadu ke umma ya! Dia kan lagi sakit” pinta Hasan abangnya.
Ayah mereka meninggal beberapa bulan yang lalu stelah terkena serangan jantung. Sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga adalah ibu mereka. Namun beberapa hari ini ibu mereka mulai saki-sakitan, sehingga ibu mereka tidak dapat bekerja.

Hasan yang masih baru menginjak umur 9 tahun tak dapat membantu keuangan keluarga mereka apalagi harus mengurusi sirin adiknya yang masih berumur 5 tahun. Sekarang persediaan uang dan makanan mereka sudah habis, di tambah lagi obat ibu mereka yang belum ditebus. Hal yang paling memberatkan hasan adalah adik kecilnya yang selalu merengek, “Abang aku lapar bang!” ucap sirin sambil menarik-narik kemeja abangnya yang lusuh .
“Bersabarlah sirin, abang carikan di dapur dulu yaa!” Hasan sengaja berbohong untuk menenangkan adiknya, karena dia tau persediaan makanan didapur sudah habis.

Hasan pergi kedapur dan membuka lemari kayu tua, padahal dia tau tidak ada apapun yang bisa mengisi perut adiknya. Sambil berfikir sejenak, Hasan mengambil mangkuk yang terbuat dari tanah liat dan kembali kepada adiknya, “sirin abang mau beli makanan, sirin jaga umma ya…” ucap Hasan lembut. Sambil menganguk, sirin kembali ke sofa berdebu di sebelah perapian untuk menunggu kakaknya yang akan membawa makanan.

Kini hasan semakin gelisah karena ia tidak memegang uang sepersen pun. Hasan duduk-duduk dibawah tiang lampu yang berkedip-kedip serta dipenuhi serangga kecil, ia terdiam dan berfikir, “Bagaimana jika aku pulang tanpa makanan? bagaimana dengan sirin yg lapar? bagaimana jika ia mengeluh ke umma? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Ditengah kegelisahannya, Hasan menelan ludah dan memegang mangkuk erat-erat. Dia melangkah kembali ke arah rumah gubuknya, namun langkahnya terhenti dan berbelok menuju rumah tetangganya.

Setibanya di depan pintu, genggaman Hasan semakin erat, dengan perasaan tidak enak yang bercampur aduk dengan rasa malu, ia pun mengetuk pintu peot itu dengan mangkuk yang di genggamnya. Tak lama, seorang wanita tua dengan tubuh gemuknya serta jilbab yang sembarang perlahan lahan membuka pintu reot itu. Hasan mengucapkan salam, “Assalamualaikum bibi”. “Waalaikum salam anakku” jawab wanita itu. Dengan malu Hasan berkata, “Bibi, masih adakah makanan yang tersisa” dia meminta sambil menjulurkan mangkuk tanah liatnya,
“ oh Hasan, maafkan bibi sayang, aku tak punya sesuatu untuk mu” wanita itu berkata sambil mengengam kerudungnya yang sembarang itu. ”Terima kasih bibi” ucap hasan sambil berlari karena malu.

Sampai dirumahnya, Hasan disambut rintihan adiknya, “Abang apakah engkau membawa makanan?” Sirin berlari lalu menengok ke arah mangkuk yang dipegang abangnya.
Hasan pun langsung lari ke dapur dan menengak nengok tanpa tujuan, ia pun melihat gelas kayu, lalu ia ambil dan mengisinya dengan air. Dia pun menyodorkan gelas itu ke sirin. ”Sekarang ini dulu ya, besok abang carikan lagi” sambil menahan tangis dia mengusap rambut ikal adiknya, sirinpun tak mengatakan apa-apa karena ia tau betapa beratnya hati abangnya yang terlihat dari raut wajahnya yang sayu.

Umma dan sirin sudah tertidur dengan perut kosong, Hasan yang masih terjaga berusaha tidur. Ia pun berbaring disebelah adiknya dan menatap langit-langit yang kusut. Dia mulai terlelap. Sebelum subuh, ia terbangun karena suara aneh yang berasal dari luar rumahnya, ia-pun lari dan menengok ke arah jendela, ia melihat sosok pria gagah, yang membawa kantung besar yang digantungkan dipundaknya dalam kegelapan, karena rasa penasaranya ia membuka pintu untuk melihat pria itu lebih jelas, namun ia kaget melihat setumpuk roti didalam mangkuk kayu dan sebotol susu. ”Siapakah pria tadi???” pertanyaan itu terlintas di kepalanya yang sedang bingung.

Matahari telah bersinar kembali di iringi orang-orang yang lalu lalang dengan kesibukan mereka, hasan yang ada diantara orang orang itu terlihat rapi dengan ransel yang berisi buku-buku sekolahnya. Sesampainya di sekolah, ia langsung menceritakan pria yang menaruh semangkuk roti dan susu di depan pintunya. Raut wajah sahabat hasan yang bernama Aziz itu pun berubah, seperti mengetahui sesuatu, “ Apa engkau melihatnya?!, apa kau berbincang bincang denganya?!, bagaimana rupanya?!” Aziz sangat bersemangat dengan sejuta pertanyaan. “Tunggu-tunggu, jadi kau mengenalnya?!” raut wajah Hasan sangat serius,”Apa kau bercanda?! Hampir seluruh penduduk desa’mengetahui keberadaanya” Aziz sangat bersemangat” coba ceritakan siapa pria itu?” pinta Hasan.
“Dia adalah, Ayah dari seluruh anak yatim, dia adalah keadilan, dia adalah pemilik pedang zulfikar, dia adalah peribadi yang menagis dimalam hari dan bagai singa di siang hari, dia adalah pribadi yang membela kaum tertindas, dia adalah ksatria yang nyata dibalik cerita cerita Ksatria yang kosong, dia adalahksatria 110” Aziz bercerita dengan sangat yakin. Hasan pun terlihat lega karena rasa penasaranya terjawab, ”Jadi dia akan melindungi dan membela hak seorang yang tertindas, menjaga keadilandan kebenaran” ucap hasan dalam hati. ”Aku dan sirin akan selalu terlindungi walaupun ayah sudah tiada, aku dan sirin akan selalu punya ayah, walau ayah sudah pergi”.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.