Karya pena : Syahzanan assegaf
“Abang aku lapar bang” Sirin mengadu kepada abangnya. Mereka anak yatim yang tinggal disebuah desa terpencil di ujung sahara sana. “Sirin adikku, sabar ya! Abang carikan makanan di dapur, tapi jangan mengadu ke umma ya! Dia kan lagi sakit” pinta Hasan abangnya.
Ayah mereka meninggal beberapa bulan yang lalu stelah terkena serangan jantung. Sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga adalah ibu mereka. Namun beberapa hari ini ibu mereka mulai saki-sakitan, sehingga ibu mereka tidak dapat bekerja.
Hasan yang masih baru menginjak umur 9 tahun tak dapat membantu keuangan keluarga mereka apalagi harus mengurusi sirin adiknya yang masih berumur 5 tahun. Sekarang persediaan uang dan makanan mereka sudah habis, di tambah lagi obat ibu mereka yang belum ditebus. Hal yang paling memberatkan hasan adalah adik kecilnya yang selalu merengek, “Abang aku lapar bang!” ucap sirin sambil menarik-narik kemeja abangnya yang lusuh .
“Bersabarlah sirin, abang carikan di dapur dulu yaa!” Hasan sengaja berbohong untuk menenangkan adiknya, karena dia tau persediaan makanan didapur sudah habis.
Hasan pergi kedapur dan membuka lemari kayu tua, padahal dia tau tidak ada apapun yang bisa mengisi perut adiknya. Sambil berfikir sejenak, Hasan mengambil mangkuk yang terbuat dari tanah liat dan kembali kepada adiknya, “sirin abang mau beli makanan, sirin jaga umma ya…” ucap Hasan lembut. Sambil menganguk, sirin kembali ke sofa berdebu di sebelah perapian untuk menunggu kakaknya yang akan membawa makanan.
Kini hasan semakin gelisah karena ia tidak memegang uang sepersen pun. Hasan duduk-duduk dibawah tiang lampu yang berkedip-kedip serta dipenuhi serangga kecil, ia terdiam dan berfikir, “Bagaimana jika aku pulang tanpa makanan? bagaimana dengan sirin yg lapar? bagaimana jika ia mengeluh ke umma? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Ditengah kegelisahannya, Hasan menelan ludah dan memegang mangkuk erat-erat. Dia melangkah kembali ke arah rumah gubuknya, namun langkahnya terhenti dan berbelok menuju rumah tetangganya.
Setibanya di depan pintu, genggaman Hasan semakin erat, dengan perasaan tidak enak yang bercampur aduk dengan rasa malu, ia pun mengetuk pintu peot itu dengan mangkuk yang di genggamnya. Tak lama, seorang wanita tua dengan tubuh gemuknya serta jilbab yang sembarang perlahan lahan membuka pintu reot itu. Hasan mengucapkan salam, “Assalamualaikum bibi”. “Waalaikum salam anakku” jawab wanita itu. Dengan malu Hasan berkata, “Bibi, masih adakah makanan yang tersisa” dia meminta sambil menjulurkan mangkuk tanah liatnya,
“ oh Hasan, maafkan bibi sayang, aku tak punya sesuatu untuk mu” wanita itu berkata sambil mengengam kerudungnya yang sembarang itu. ”Terima kasih bibi” ucap hasan sambil berlari karena malu.
Sampai dirumahnya, Hasan disambut rintihan adiknya, “Abang apakah engkau membawa makanan?” Sirin berlari lalu menengok ke arah mangkuk yang dipegang abangnya.
Hasan pun langsung lari ke dapur dan menengak nengok tanpa tujuan, ia pun melihat gelas kayu, lalu ia ambil dan mengisinya dengan air. Dia pun menyodorkan gelas itu ke sirin. ”Sekarang ini dulu ya, besok abang carikan lagi” sambil menahan tangis dia mengusap rambut ikal adiknya, sirinpun tak mengatakan apa-apa karena ia tau betapa beratnya hati abangnya yang terlihat dari raut wajahnya yang sayu.
Umma dan sirin sudah tertidur dengan perut kosong, Hasan yang masih terjaga berusaha tidur. Ia pun berbaring disebelah adiknya dan menatap langit-langit yang kusut. Dia mulai terlelap. Sebelum subuh, ia terbangun karena suara aneh yang berasal dari luar rumahnya, ia-pun lari dan menengok ke arah jendela, ia melihat sosok pria gagah, yang membawa kantung besar yang digantungkan dipundaknya dalam kegelapan, karena rasa penasaranya ia membuka pintu untuk melihat pria itu lebih jelas, namun ia kaget melihat setumpuk roti didalam mangkuk kayu dan sebotol susu. ”Siapakah pria tadi???” pertanyaan itu terlintas di kepalanya yang sedang bingung.
Matahari telah bersinar kembali di iringi orang-orang yang lalu lalang dengan kesibukan mereka, hasan yang ada diantara orang orang itu terlihat rapi dengan ransel yang berisi buku-buku sekolahnya. Sesampainya di sekolah, ia langsung menceritakan pria yang menaruh semangkuk roti dan susu di depan pintunya. Raut wajah sahabat hasan yang bernama Aziz itu pun berubah, seperti mengetahui sesuatu, “ Apa engkau melihatnya?!, apa kau berbincang bincang denganya?!, bagaimana rupanya?!” Aziz sangat bersemangat dengan sejuta pertanyaan. “Tunggu-tunggu, jadi kau mengenalnya?!” raut wajah Hasan sangat serius,”Apa kau bercanda?! Hampir seluruh penduduk desa’mengetahui keberadaanya” Aziz sangat bersemangat” coba ceritakan siapa pria itu?” pinta Hasan.
“Dia adalah, Ayah dari seluruh anak yatim, dia adalah keadilan, dia adalah pemilik pedang zulfikar, dia adalah peribadi yang menagis dimalam hari dan bagai singa di siang hari, dia adalah pribadi yang membela kaum tertindas, dia adalah ksatria yang nyata dibalik cerita cerita Ksatria yang kosong, dia adalahksatria 110” Aziz bercerita dengan sangat yakin. Hasan pun terlihat lega karena rasa penasaranya terjawab, ”Jadi dia akan melindungi dan membela hak seorang yang tertindas, menjaga keadilandan kebenaran” ucap hasan dalam hati. ”Aku dan sirin akan selalu terlindungi walaupun ayah sudah tiada, aku dan sirin akan selalu punya ayah, walau ayah sudah pergi”.